BeritaKesehatan

RS PKU Bantul Sebagai FKRTL Layanani TB Tertinggi di DIY

Bantul (14/11) Bertempat di Aula Farmasi Instalasi Farmasi Kabupaten Bantul DIY, Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Bantul (RS PKU Bantul) dinyatakan sebagai Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL) layanani Pasien TB tertinggi di DIY oleh BPJS selama kurun waktu januari 2017 sampai dengan mei 2022 disampaikan oleh dr Eko Purboyono, KePala Bidang (PMR) Penjaminan Manfaat Rujukan BPJS Kesehatan Yogyakarta. pada acara monitoring dan evaluasi pencapaian program Tuvercolosis (TB) di Kab.Bantul pada hari senin 13 november 2023 yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Kab Bantul dan dihadiri oleh seluruh RS , hadir mewakili PKU Bantul adalah Zusnita Agustina Tim TB RS PKU Muh Bantul.

Menurut Zusnita Tim TB RS PKU Muh Bantul, tercatat pada tahun 2023 kasus TBC yg sudah diobati sampai bulan Oktober mencapai 169 pasien. Terjadi peningkatan yang signifikan kasus terduga TB dan TB yang diobati mulai tahun 2022. Yaitu kasus terduga meningkat 5 x lipat tahun 2021 ( Tahun 2021=196, tahun 2022=878). Sedangkan kasus TB yang diobati meningkat 3 x lipat dari tahun 2021 ( 2021=148 kasus, tahun 2022 = 354 kasus)

dr. Nurcholid umam, Sp.A, M.Sc Direktur Utama RS PKU Muhammadiyah Bantul menyampaikan bahwa PKU Bantul mengembangkan sistem informasi Rekam medis elektronik yang diintegrasikan dengan skrining TB. Sistem skrining terintegrasi EMR di rawat jalan ini mampu meningkatkan kewaspadaan para dokter dalam menemukan kasus baru TB, sebagai langkah sistem penanganannya. Sekain itu dokter umam juga mengatakan bahwa kesuksesan ini merupakan bentuk Kolaborasi yang dilakukan adalah dengan seluruh DPJP, Dinas Kesehatan, Puskesmas jejaring, dokter2 praktek mandiri, bidan praktek swasta untuk melakukan pemeriksaan lanjutan jika ada pasien yg terdeteksi TB.

Lebih lanjut dokter umam berharap dengn penemuan banyak pasien baru TB dan diobati sampai sembuh dapat menurukan insidensi TB di Kab Bantul dan meningkatkan angka kesembuhan TB. Sistem yang dikembangkan ini semoga dapat diterapkan di RS lainnya sehingga dapat membuat para dokter dan nakes lebih mudah menemukan penderita baru untuk diobati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *