ArtikelKultum Ramadhan 1445 H

Empat Tipologi Umat Islam dalam Mengisi Bulan Ramadhan: Tipe Yang Manakah Kita?

اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ اَلْحَمْدُ ِللهِ اَلَّذِيْ هَدٰينَا لِهٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلاَ اَنْ هَدٰينَا الله وَأَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ،   اَمَا بَعْدُ.

Jamaah rahimakumullah

Jika ada tipologi orang dalam menyambut bulan Ramadhan, maka juga ada tipologi orang dalam mengisi bulan Ramadhan. Berdasarkan pendapat Syeikh Musthafa As-Siba’i, setidaknya ada 4 tipologi orang dalam mengisi bulan Ramadhan:

Pertama, orang yang sama sekali tidak mau berpuasa.

Bagi orang yang masuk tipologi pertama ini ia menganggap bahwa Ramadhan adalah bulan penghalang orang untuk lebih produktif. Ia memandang Ramadhan sebagai bulan yang merugikan dirinya. Ia tidak gembira dengan Ramadhan, namun sebaliknya justru mencela. Sehingga ia tidak melakukan puasa Ramadhan. Bahkan ia terang-terangan menampakkan tidak puasanya kepada orang lain. Ia tidak menghormati orang lain yang sedang berpuasa, dengan cara makan dan minum dengan sengaja di depan orang yang sedang berpuasa. Padahal jika ditanya agamanya ia menjawab Islam.

Kedua, orang yang puasa, namun puasanya terpaksa, tidak ikhlas.

Karena ia masih mengaggap bahwa Ramadhan adalah bulan lapar dan dahaga.  Puasanya tipe orang ini hanya sekedar untuk berpartisipasi saja, alias puasanya pura-pura. Puasanya hanya sekedar menutupi rasa malunya. Karena jika orang lain tahu ia tidak berpuasa maka ia akan malu dan merasa tidak enak. Apa lagi ia mengaku beragama Islam, masak tidak puasa, tentu malu. Maka puasanya tipe orang ini seperti yang digambarkan di dalam hadits Nabi di atas, ia hanya akan mendapatkan lapar dan dahaga:

رُبَّ صَاىِٔمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوْعُ وَالْعَطَشُ

“Berapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga saja. (HR. Ibnu Majah)

Jamaah rahimakumullah

Ketiga, orang yang puasa dengan senang hati, namun puasanya bukan diniatkan untuk ibadah karena Allah.

Puasanya karena terbawa suasana lingkungan dan ia menganggap bahwa Ramadhan adalah bulan kuliner tahunan. Bulan Ramadhan hanya ia manfaatkan untuk memuaskan kebutuhan domestik dan keuntungan materi saja. Sehingga jika bulan Ramadhan datang ia tetap gembira dan mengisinya dengan puasa. Namun gembiranya bukan karena bulan ini bulan penuh rahmat dan ampunan, tapi gembiranya karena ia akan mendapatkan keuntungan secara materi dari ramainya bulan Ramadhan. Bulan Ramadhan ia manfaatkan untuk mengambil keuntungan materi sebanyak-banyaknya. 

Keempat, orang yang puasa dengan gembira dan ikhlas karena Allah I semata.

Orang yang masuk tipe keempat ini, akan mengisi Ramadhan dengan sebaik-baiknya. Ia bukan hanya puasa saja, namun ia juga tidak melewatkan amalan-amalan sunnah yang ada di dalamnya, seperti shalat tarawih, qiyamul lail, sadaqah, tadarus dan tadabbur Al-Qur’an dan lain-lainnya. Orang yang masuk tipe ini akan menjadikan Ramadhan sebagai sarana untuk mendapatkan derajat ketaqwaan. Ia akan menjadikan bulan Ramadhan sebagai momentum terbaik untuk memperbaiki diri (taubatan nashuha) dan mendekatkan diri kepada Allah (taqarrub ilallah). Sehingga Ramadhan bukan hanya menjadikan ia shalih secara individual, namun juga menjadikan ia shalih secara sosial. Tipe yang keempat inilah yang beruntung.

Jamaah rahimakumullah

Dari uraian di atas, kita dapat mengetahui, termasuk tipologi yang manakah kita? Semoga Allah senantiasa menjadikan kita hamba Allah yang ikhlas dalam menjalankan semua rangkaian ibadah di bulan Ramadhan ini. Sehingga kita termasuk orang-orang yang shalih dan beruntung di bulan yang istimewa ini. Bukan sebaliknya, orang yang merugi.  

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ والعفو منكمOleh: Ustadz Dr. M. Nurdin Zuhdi, S.Th.I., M.S.I., C.NLP.

Naskah Lengkap bisa di download disini

Silakan gabung Group WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *